MENGEMBANGKAN
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMONIKASI PADA SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
Oleh:
Abd. Haris
Mahasiswa S2Program
Pascasarjana Matematika
Universitas Negeri
Yogyakarta
Abstrak
Perkembangan
Teknologi Informasi telah berdampak luas dalam berbagai bidang kehidupan.
Bidang pendidikan, sosial dan budaya, politik, ekonomi dan bisnis telah
mengaplikaskan teknologi informasi dalam memperlancar segala urusan. Pada bidang pendidikan khususnya pada sekolah bertaraf internasional (SBI),
pemerintah telah gencar mengaplikasikan teknologi ini sebagai sarana
mendekatkan program-program pemerintah dengan siswa dan Sekolah Bertaraf
Internasional (SBI). Munculnya website depdiknas, e-learning dari universitas-universitas
dalam maupun luar negeri, informasi beasiswa dan lain-lain yang secara
online dapat diakses oleh lembaga, masyrakat, siswa, sekolah dimanapun berada
sangat berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kerangka berpikir TIK pada
pendidikan sekolah bertaraf internasional antara lain, komponen pertama adalah tujuan dan fungsi
pendidikan nasional, komponen
kedua adalah karakteristik peserta didik, komponen ketiga adalah karateristik bidang studi atau bidang garapan,
komponen keempat adalah
karakteristik TIK, dan komponen kelima adalah sumber daya
pendukung. Dalam dua dasawarsa terakhir ini,
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang amat pesat
dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan
dan inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara. Bahkan terdapat
tekanan TIK yang sangat besar terhadap sistem pendidikan secara global karena:
(i) teknologi yang berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar untuk
mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah, (ii)
hasil belajar siswa yang spesifik dapat diidentifikasi dengan pemanfaatan
teknologi baru tersebut, dan (iii) TIK memiliki potensi yang sangat besar untuk
mentransformasikan seluruh aspek di dalam pendidikan di sekolah bertaraf internasional (SBI) memanfaatkannya
untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Kata kunci : Inplementasi
Teknologi Informasi dan Komonikasi pada sekolah bertaraf internasional (SBI)
PENDAHULUAN
Dalam dua dasawarsa terakhir
ini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang amat
pesat dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam
percepatan dan inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara. Bahkan
terdapat tekanan TIK yang sangat besar terhadap sistem pendidikan secara global
karena: (i) teknologi yang berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar
untuk mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah,
(ii) hasil belajar siswa yang spesifik dapat diidentifikasi dengan pemanfaatan
teknologi baru tersebut, dan (iii) TIK memiliki potensi yang sangat besar untuk
mentransformasikan seluruh aspek di dalam pendidikan di sekolah bertaraf internasional (SBI) memanfaatkannya
untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Sejumlah negara telah
mengintegrasikan TIK dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan
nasionalnya. Singapura, misalnya, telah menerapkan teknologi informasi
interaktif pada sistem persekolahan dengan rasio satu komputer dua siswa.
Sistem jaringan dibangun untuk menghubungkan pendidikan, dunia internasional,
dunia industry berteknologi tinggi, dan dunia kerja. Ringkasnya, beberapa
negara telah mengubah kultur pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi
digital ke dalam kegiatan belajar dan bekerja di sekolah.
Peralihan kultur yang dimaksud
di atas hanya bisa terjadi kalau komunitas pendidikan memiliki komitmen yang
kuat untuk memanfaatkan TIK. Kelompok komunitas tersebut adalah para praktisi
pendidikan baik yang berkaitan dengan manajemen maupun proses belajar mengajar
pada semua tingkatan dan unit pendidikan, yang terdiri atas guru, dosen, instruktur,
kepala sekolah, pengawas, staf administrasi, dan pejabat dalam lingkungan
departemen pendidikan. Yang tak kalah pentingnya adalah para subjek pendidikan
dari semua jenjang yang terdiri atas siswa dan mahasiswa. Dalam konteks ini,
pemanfaatan TIK harus direalisasikan untuk (a) pengelolaan pendidikan melalui
otomasi system informasi manajemen dan akademik berbasis TIK, dan (b) sistem
pengelolaan pembelajaran baik sebagai materi kurikulum, suplemen dan pengayaan
maupun sebagai media dalam proses pembelajaran yang interaktif serta
sumber-sumber belajar mandiri yang inovatif dan menarik. Dengan kata lain,
pendayagunaan TIK dalam manajemen pendidikan dan proses pembelajaran bertujuan
untuk menfasilitasi penyelenggara dan peserta pendidikan guna mendorong peningkatan
kualitas pendidikan.
Komitmen tersebut perlu
dipertahankan untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan TIK dalam dunia
pendidikan. Rekdale (2001) mengemukakan bahwa pada program di masa lalu untuk
menyediakan teknologi ke sekolah kebanyakan mencapai sedikit sukses dalam
jangka waktu yang cukup lama dan jarang sekali menunjukkan perkembangan.
Persyaratan mengenai laboratorium bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada
enam masalah utama, yaitu ; (i) Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia;
(ii) Pelatihan biasanya terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan
di lapangan atau perubahan sikap, (iii) Tidak tersedianya karyawan untuk
perawatan rutin dan pengembangannya, (iv) Tidak tersedianya teknisi ahli atau
terlalu mahal, (v) Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia, dan (vi)
Lemahnya kondisi kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak dapat
membagi waktu untuk mengembangkan materi mengajar secara kreatif. Di sisi lain,
sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran
memiliki dampak positif terhadap performansi dan prestasi belajar siswa (Graus,
1999; Stepp-Greany, 2000; Stepp-Greany, 2002; and Choi and Nesi, 1999 dalam
Noni).
Perkembangan Teknologi Informasi telah berdampak luas dalam berbagai bidang kehidupan. Bidang pendidikan, sosial dan budaya, politik, ekonomi dan bisnis telah mengaplikaskan teknologi informasi dalam memperlancar segala urusan.
Pada bidang pendidikan khususnya pada sekolah bertaraf internasional (SBI), pemerintah telah gencar mengaplikasikan teknologi ini sebagai sarana mendekatkan program-program pemerintah dengan siswa. Munculnya website depdiknas, e-learning dari universitas-universitas dalam maupun luar negeri, informasi beasiswa dan lain-lain yang secara online dapat diakses oleh lembaga, masyrakat, siswa, sekolah dimanapun berada sangat berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tingkat sekolah, adanya kurikulum Teknologi informasi sebagai mata pelajaran wajib di sekolah menengah, diikuti oleh pembangunan Laboratorium Komputer untuk praktek, secara langsung akan membekali siswa-siswa sekolah menengah untuk mengenal, mengerti bahkan terampil menggunakan Teknologi Komunikasi dan Informasi. Kompetensi ini akan sangat berdampak pada kemampuan siswa untuk memperkaya sumber-sumber belajar dari internet yang tidak mereka dapatkan dari pelajaran di sekolah. Dampak lain dari perkembangan teknologi informasi adalah munculnya berbagai sistem informasi akademik di setiap sekolah, untuk mempermudah proses manajemen di sekolah. Para siswa terbantu dalam mengakses berbagai informasi baru dari sekolah seperti pendaftaran calon siswa baru, melihat nilai dan perkembangan mutakhir lainnya. Pihak sekolah juga terbantu untuk menyediakan informasi terbaru yang dibutuhkan oleh para guru maupun karyawan yang secara transparan dapat diakses dimanapun secara online.
PEMBAHASAN
Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi
dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi meliputi segala hal
yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaaninformasi.
Teknologi komunikasi mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat
bantu untuk memproses dan mentrasfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
Karena itu, penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK
secara umum termasuk komputer (Computer literate) dan memahami
informasi (Information literate). Tinio mendefenisikan TIK
sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan,
mendiseminasikan, menyimpan, dan mengelola informasi. Teknologi yang dimaksud
termasuk komputer, internet, teknologi penyiaran (radio dan televisi), dan
telepon. UNESCO (2004) mendefenisikan bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan
untuk berkomunikasi dan menciptakan, mengelola dan mendistribusikan informasi.
Defenisi umum TIK adalah computer, internet, telepon, televise, radio, dan
peralatan audiovisual.
Kerangka Pikir Pemanfaatan Tik Pada Sekolah
Bertaraf Internasional (SBI)
Prinsip-prinsip di atas diterapkan dengan kerangka pikir pemanfaatan TIK
dalam pendidikan, yang merupakan perajutan dari komponen-komponen berikut: (1)
fungsi dan tujuan pendidikan nasional, (2) karakteristik peserta didik sasaran,
(3) karakteristik jenis TIK dalam kelas bertaraf internasional, (4) karakteristik bidang studi/garapan;
dan (5) sumber daya pendukung.
Komponen pertama adalah tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Seperti
telah disebut sebelumnya, pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak (karakter) dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (lihat pengertian kehidupan yang cerdas di
atas). Tujuannya adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik menjadi
manusia Indonesia seutuhnya. Ibtinya adalah bahwa pemanfaatan TIK hendaknya
mendukung secara terpadu berkembangnya
kebiasaan pikiran, kebiasaan hati, dan kebiasaan raga yang mengandung
nilai-nilai mulia/kebajikan, dan mengedikitkan kebiasaan yang
destruktif/merugikan bagi diri sendiri, masyarakat, dan/atau bangsa.
Komponen kedua adalah
karakteristik peserta didik. Mengingat pentingnya mempertimbangkan peserta
didik sebagai subjek belajar, karakteristik peserta didik sebagai komponen
kedua mencakup faktor-faktor peserta didik berikut (Piaget, 1970; Vygostky,
1978; Gardner, 1999; lewat Brown, 2007): umur bersama tingkat pertumbuhan dan tingkat perkembangan, kecerdasan
(linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik-ragawi,
naturalistik, antarpribadi, intrapribadi); kepribadian (harga-diri, kecemasan,
pengambilan-resiko, empati, ego, introvert vs. Ekstrovert); dan gaya belajarnya
(field
Independence vs. Field Dependence; Left-vs. Right-Brain
Functioning, Ambiguity Tolerance, Reflectivity vs. Impulsivity, Visual, auditory, tactile).
Komponen ketiga
adalah karateristik bidang studi atau bidang garapan, yang pada dasarnya semuanya
melibatkan aspek kognitif (akademik/teoretik), afektif (rasa/ emosi),
psikomotor (keterampilan melakukan dengan raga), dan interaktif
(antarpribadi/sosial) tetapi dengan penekanan yang berbeda. Untuk karakteristik
bidang studi/bidang garapan perlu dipertimbangkan apakah ia menekankan (i) keterampilan
berpikir akademik-teoretik seperti matematika, kimia, dan fisika, (ii) keterampilan
melakukan sesuatu seperti kejuruan/vokasi dan olahraga, (iii) kepekaan/kehalusan
rasa dan penataan emosi (sikap dan karakter) seperti pendidikan agama, kewarganegaraan, dan
seni, atau (iv) keterampilan sosial/antarpribadi seperti bahasa. Selain itu,
perlu juga diperhitungkan apakah butir pembelajaran tertentu berkenaan
dengan berpikir tingkat rendah atau
tinggi, keterampilan tingkat rendah atau tinggi, tingkat interaksi sederhana
atau kompleks. Singkatnya, perlu dipertimbangkan penekanan diberikan pada olah
otak, olah hati, olah raga atau kombinasi seimbang dari ketiganya.
Komponen
keempat adalah karakteristik TIK. Seperti telah diuraikan di atas,
masing-masing teknologi komunikasi dan/atau teknologi informasi memiliki daya berbeda untuk melayani
kebutuhan yang berbeda pula. Untuk informasi faktual, konseptual, dan
prosedural, ada teknologi yang mampu mengabadikannya dalam bentuk visual (tanpa
atau dengan berwarna, tanpa atau dengan gerak), bentuk audio, dan bentuk
audio-visual, dan ada juga teknologi yang mampu
mengabadikan informasi dan sekaligus mengirimkan dan/atau memancarkannya
ke kelompok sasaran yang lebih besar, bahkan ke seluruh penjuru dunia.
Pemilihan teknologi harus berdasarkan kriteria relevansi (dengan tujuan
pembelajaran/manajemen), keselarasan (dengan karakteristik kelompok sasaran),
keterjangkauan (kemampuan pengadaan), dan kepraktisan (kemudahan dalam
menggunakannya dalam kondisi dan situasi yang ada).
Komponen
kelima, adalah sumber daya
pendukung. Pemanfaatan TIK memerlukan dukungan tenaga manusia, perangkat lunak,
dan perangkat keras (peralatan), serta biaya. Tenaga manusia mencakup guru dan
teknisi TIK bersama kompetensinya, perangkat lunak merujuk pada program TIK
yang telah dirancang sesuai tujuan yang akan dicapai dengan TIK terkait,
perangkat keras merujuk pada peralatan TIK bersama dengan tempat yang kuat dan
aman untuk meletakkan dan menyimpan TIK, sedangkan biaya mencakup biaya untuk
pemeliharaan peralatan, peremajaan peralatan, dan pengembangan program serta
pemberdayaan tenaga manusianya.
Semua komponen ini
hendaknya selaras dan setara satu sama lainnya dari segi kapasitas.
Ketidaselarasan dan ketidaksetaraan dapat menyebabkan kepincangan dan
terjadinya pemborosan. Misalnya, menurut pengamatan terbatas saya, ketersediaan
peralatan TIK di sekolah-sekolah di DIY (atas bantuan dari Pemerintah) telah
melebihi kapasitas guru sehingga pemanfaatannya untuk tujuan pembelajaran
sangat rendah, dan mungkin saja peralatan menjadi rusak bukan karena digunakan
tetapi karena terbengkalai lantaran jarang atau tidak pernah digunakan. Oleh
sebab itu, perlu dilakukan upaya memberdayakan tenaga manusia terkait (calon
pemakai dan teknisi) sebelum pengadaan perangkat TIK sehingga segera dpat
memanfaatkannya ketika sudah tersedia.
Guru memegang peran kunci dalam
pembelajaran dan dengan demikian dalam pemanfaatan TIK disemua jenjang sekiolah
baik disekolah RSBI maupun sekolah Negeri dan suasta untuk tujuan kependidikan.
Agar dapat memetik manfaat optimal dati TIK untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan, para guru perlu menguasasi sederet kompetensi memadai untuk
dapat menyelenggarakan pembelajaran berbantuan atau berbasis TIK. Seperti disajikan di bawah:
1. Pemahaman
tentang asumsi pedagogis yang melandasi penggunaan TIK, misalnya bias gender
dan etnik, relevansi pendidikan, dampak sosial, kecocokannya dengan lingkungan kelas, dengan pembelajaran
kooperatif dan dengan interaksi sejawat;
2. Pertimbangan
tentang persoalan akses yang tepat ke informasi, dan verifikasi sumber
informasi termasuk Internet;
3. Pemahaman
tentang TIK dan potensinya untuk meningkatkan belajar siswa;
4. Peningkatan
kesadaran akan sederet aplikasi dan teknologi adaptif yang tersedia untuk
mendukung siswa berkebutuhan khusus;
5. Evaluasi
terhadap materi belaajr berbasis TIK dan perangkat lunak untuk tujuan
pendidikan;
6.
Penggunaan
efektif aplikasi TIK untuk mendukung hasil, isi, dan proses silabus tertentu,
7.
Peningkatan
keterampilan untuk merancang serangkaian tugas penilaian berbasis TIK yang
menggunakan kriteria pensekoran yang jelas terkait dengan hasil silabus
8.
Pemahaman
tentang persyaratan bahwa mereka dan siswanya menggunakan informasi elektronik
secara tepat, termasuk yang terkait dengan plagiarisme, hak cipta, pensensoran,
dan privasi;
9.
Kapasitas
mantap untuk menggunakan perangkat lunak untuk menyusun teks, memanipulasi
citra, menciptakan presentasi, mengadakan sekuen suara digital dan visual,
menyiumpan dan meretriv informasi
digital untuk pembelajran kelas dan online;
10.
Kapasitas
nyata untuk mengevaluasi secara kritis, meretris, memanipulasi, dan
mengelola informasi dari sumber-sumber
seperti Internet, SD-ROMS, DVDROMS, dan program komersial lainnya;
11.
Penggunaan
perangkat lunak secara berhasil yang mendukung jejaring dan komunikasi sosial, termasuk email, forums, chat and list services; dan
12. Kapasitas mantap untuk menggunakan
perangkat lunak yang tepat untuk membuat profil siswa dan pelaporan, persiapan
pelajaran dan administrasi sekolah.
Perangkat kompetensi guru tersebut di atas dapat
menjadi salah satu acuan untuk merancang pelatihan guru dalam jabatan agar mereka mampu
memanfaatkan TIK untuk pembelajaran yang diampunya. Penguasaan
perangkat kompetensi guru di atas, akan membantu mereka dalam menjalankan delapan peran guru abad ke-21 sebagai
berikut: adaptor, insan bervisi,
kolaborator, pengambil resiko, pembelajar, model, komunikator, dan pemimpin.
Perkembangan teknologi komunikasi mulai dari yang
sangat sederhana sampai yang tercanggih (TIK-internet) dengan dampak makin
besar dalam mengubah kehidupan manusia. Pertama, literasi teknologi telah
memfasilitasi penambahan dan pendalaman pengetahuan, yang pada gilirannya
memfasilitasi penciptaan pengetahuan, yang selanjutnya lagi dapat mendorong
terciptanya teknologi komunikasi baru.
Kedua, teknologi memiliki pengaruh positif dalam meningkatkan ragam
kehidupan manusia bersama kenikmatan yang ditimbulkannya, tetapi pada waktu
yang sama budaya yang serba mudah dan instan cenderung mengikis nilai-nilai
luhur kehidupan. Ketiga, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk
memanfaatkan potensial TIK secara optimal sambil menyedikitkan dampak
negatifnya. Untuk inilah, akhirnya, dunia pendidikan memerlukan kerangka pikir
dan prinsip pemanfatan TIK.
Meskipun dampak teknologi
informasi sudah sedemikian besar pengaruhnya pada lingkup sekolah, ternyata
fakta yang terjadi di lapangan adalah banyak guru-guru, karyawan dan konselor
sekolah masih gagap teknologi. Bagi guru-guru dan karyawan tentu Teknologi
Informasi akan mempermudah segala urusan pembelajaran di sekolah, disamping
untuk memperkaya bahan ajar.
DAFTAR PUSTAKA
Association for
Counselor Education and Supervision, 1999. Ketrampilan teknis
penggunaan komputer dan internet.
Daya Sigh
Sandhu (Ed), 2001. Elementary School Counseling in A New Millenium. Alexandria,
LA: ACA
Hines, Peggy La Turno. 2003. Student Technology Competencies for School
Counseling Programs. (2003, December 26). Teacher Fellowship Grant (online)
Available: http://jtc.colstate.edu/vol2_2/hines/hines.htm
Noni, Nurdin. Modul penerapan teknologi informasi
dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan. Makasar
Soemantri,
Maman. 2006. Mengenal Kebutuhan Keahlian Komputer di Perguruan Tinggi. (Diakses
di internet: http://www.geocities.com/mmsoemantri/ butuhkmpdipt.htm
Triyanto, Agus.
2006. Aplikasi Teknologi Komputer untuk Bimbingan dan Konselling, dalam
Paradigma: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, No. 01 Tahun I, Januari
2006.
Zark Van Zandt
& Jo Hayslip. 2001. Developing Your School Counseling Program: A Handbook
for Systematic Planning. Belmont, CA: Brooks/Cole.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar