Pembelajaran
berbasis masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran
berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Menurut Boud dan Felleti pembelajaran berdasarkan masalah ( problem
based learning ) adalah suatu pendekatan yang membelajarkan siswa untuk
mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah,
belajar berperanan menjadi orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar
mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran
berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
berfikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai
peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau
simulasi dan menjadi pembelajar yang mandiri ( Muslimin I, 2000:7).
Pembelajaran
berbasis masalah (problem based learning) bertujuan membantu siswa
mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah, belajar
peranan orang dewasa yang otentik dan menjadi pelajar yang mandiri. Ciri-ciri
utama pembelajaran berdasarkan masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau
masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan, autentik, kerjasama
dan menghasilkan karya peragaan.
Di dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ini
terdapat 3 ciri utama:
- Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan
rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak
mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal
materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis
masalah siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan
akhirnya menyimpulkannya.
- Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan
masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
- Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode
ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini
dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir
ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang
jelas.
Ada beberapa
cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai
dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah
tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik
akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain,
peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah
yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai
dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian peserta didik belajar
memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.
Menurut Agus dalam buku cooperative learning,
strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah.
Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan
agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat
diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :
|
Fase-fase
|
Perilaku pendidik
|
|
Fase
1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.
|
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan
berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk
terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
|
|
Fase
2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti
|
Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan
tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
|
|
Fase
3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
|
Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi
yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
|
|
Fase
4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
|
Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan
menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan
model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.
|
|
Fase
5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
|
Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap
investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
|
David Johnson
and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
1) Mendefinisikan masalah, yaitu
merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga
siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa
meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk
dipecahkan.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan
sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor
yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian
masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga
akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat
dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3) Merumuskan alternatif strategi, yaitu
menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada
tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan
argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4) Menentukan dan menerapkan strategi
pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat
dilakukan.
5) Melakukan evaluasi, baik evaluasi
proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh
proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat
dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218).
Menurut John Dewey,
penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
|
Tahap-tahap
|
Kemampuan yang diperlukan
|
|
Merumuskan
masalah
|
Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas.
|
|
Menelaah
masalah
|
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah
dari beberapa sudut.
|
|
Merumuskan
hipotesis
|
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan
alternatif penyelesaian.
|
|
Mengumpulkan
dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
|
Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam
bentuk diagram, gambar, dan table.
|
|
Pembuktian
hipotesis
|
Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan
menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan
kesimpulan.
|
|
Menentukan
pilihan penyelesaian
|
Kecakapan membuat alternative penyelesaian. Kecakapan menilai
pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
|
Berdasarkan
pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks
strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis
masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok,
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses
dan hasil.
Strategi
pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak
hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi
yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya
pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.
Pelaksanaan Pembelajaran Bedasarkan Masalah
1.
Tugas Perencanaan. Pembelajaran
Bedasarkan Masalah memerlukan banyak perencanaan seperti halnya model-model
pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.
o
Penetapan Tujuan. Pertama
mendiskripsikan bagaimana pembelajaran berdasarkan masalah direncanakan untuk
membantu tercapainya tujuan-tujuan tertentu misalnya ketrampilan
menyelidiki, memahami peran orang dewasa dan membantu siswa menjadi pembelajar
yang mandiri
o
Merancang situasi masalah.
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah guru memberikan kebebasan siswa untuk
memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini dapat meningkatkan
motivasi siswa. Masalah sebaiknya otentik, mengandung teka-teki dan tidak
terdefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama, bermakna dan konsisten
dengan tujuan kurikulum.
o
Organisasi sumber daya dan rencana logistik. Dalam
pembelajaran berdasarkan masalah guru mengorganisasikan sumber daya dan
merencanakan keperluan untuk keperluan penyelidikan siswa karena dalam model
pembelajaran ini dimungkinkan siswa bekerja dengan beragam material dan
peralatan, pelaksanaan dapat dilakukan didalam maupun diluar kelas.
2.
Tugas interaktif
o
Orientasi siswa pada masalah. Siswa perlu memahami
bahwa pembelajaran berdasarkan masalah adalah kegiatan penyelidikan terhadap
masalah-masalah yang penting dan untuk menjadi pelajar yang mandiri. Oleh
karena itu cara yang baik dalam menyajikan masalah adalah dengan menggunakan
kejadian-kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri sehingga merangsang
untuk memecahkan masalah tersebut
o
Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Dalam
pembelajaran berdasarkan masalah siswa memerlukan bantuan guru untuk
merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan. Mengorganisasikan siswa ke
dalam kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorrganisasikan
siswa kedalam kelompok pembelajaran berdasarkan masalah
o
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok. (1)
guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa
diberi pertanyaan yang membuat siswa memimikirkan masalah dan jenis informasi
yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah sehingga siswa diajarkan menjadi
penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk memecahkan
masalah tersebut. (2) Guru mendorong pertukaran ide secara bebas dan
penerimaan sepenuhnya ide-ide tersebut (3) Puncak kegiatan pembelajaran
berdasarkan masalah adalah penciptaan dan peragaan seperti poster, videotape
dsb.
3.
Analisis dan evaluasi proses
pemecahan masalah. Tugas guru pada tahap akhir pembelajaran berdasarkan
masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir
mereka sendiri dan keterampilan
penyelidikan yang mereka gunakan.
Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Managemen
Guru perlu memberikan seperangkat
aturan, sopan santun kepada siswa untuk mengendalikan tingkah laku siswa
ketika mereka melakukan penyelidikan sehingga terciptanya kenyamanan, kemudahan
siswa dalam melakukan aktivitasnya.
Asesmen dan evaluasi
Penilaian yang dilakukan guru tidak
hanya terbatas dengan tes kertas dan pensil ( paper and paper tes )
tetapi termasuk menemukan prosedur penilaian alternative yang dapat digunakan
untuk mengukur pekerjaan siswa. Dalam pembelajaran berbasis masalah guru berperan dalam mengembangkan aspek
kognitif dan metakognitif siswa, bukan sekedar sumber pengetahuan dan penyebar
informasi. Disamping itu siswa bukan sebagai pendengar yang pasif tetapi
berperan aktif sebagai problem.
Dari penjelasan di atas dengan
menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah juga memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan di dalam proses
pembelajaran, yaitu:
1. Keunggulan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, strategi pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
a.
Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
b.
Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan
kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.
Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran
siswa.
d.
Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentrasfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.
Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan.
f.
Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai
siswa.
g.
Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk
berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru.
h.
Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
i.
Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara
terus menerus belajar.
2. Kelemahan
Di samping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran berbasis masalah juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya:
a.
Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka
akan merasa enggan untuk mencoba.
b.
Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.
Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin
pelajari.
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah harus
dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini
guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan
oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa,
pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang
terjadi dari berbagai fenomena yang ada.